Akselerasi Pembangunan di desa dengan pendekatan konsep Desa Cerdas merupakan sebuah kebutuhan dalam menjawab isu nasional dan RPJMN yang menyebut tentang Upaya membangun Desa Digital dan digititalisasi di berbagai sektor. Untuk mewujudkannya perlu tiga hal utama, yaitu Regulasi, Pendanaan dan ketersediaan SDM yang mendukung.
Blitar, [Minggu, 12 Januari 2025] – Kabupaten Blitar menjadi pusat perhatian dalam upaya pengembangan desa cerdas di Indonesia. Hal ini ditandai dengan diselenggarakannya diskusi daring bertajuk “Diskusi Rencana Pemetaan Potensi & Demografis Desa di Kabupaten Blitar Berbasis Pilar Desa Cerdas & Pengelolaan Dana Desa Sesuai Kepmendes PDTT No. 55 tahun 2024”. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut program Desa Cerdas Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) serta menjadi pilot project di tingkat nasional.
Diskusi yang berlangsung secara virtual ini menghadirkan para pakar dan praktisi di bidang pengembangan desa. Dr. Jokhanan Kristiyono, S.T., M.Med.Kom., Ketua Sekolah Tinggi Komunikasi Surabaya (STIKOSA AWS), bertindak sebagai narasumber utama. Beliau memaparkan pentingnya pemetaan potensi dan demografi desa sebagai langkah awal dalam membangun desa cerdas.
Mujianto, S.E., M.T., dari Pusat Daya Saing (Pusdaing) BPI Kemendes PDTT, memberikan pandangan yang lebih mendalam mengenai pengelolaan dana desa sesuai dengan regulasi terbaru. Beliau menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan desa dalam mengoptimalkan penggunaan dana desa untuk pembangunan yang berkelanjutan.
“Akselerasi Pembangunan di desa dengan pendekatan konsep Desa Cerdas merupakan sebuah kebutuhan dalam menjawab isu nasional dan RPJMN yang menyebut tentang Upaya membangun Desa Digital dan digititalisasi di berbagai sektor. Untuk mewujudkannya perlu tiga hal utama, yaitu Regulasi, Pendanaan dan ketersediaan SDM yang mendukung”, ungkap Mujianto.
Mujianto menyampaikan hal yang paling krusial, bahwa dalam melaksanakan riset dan pemetaan ini nantinya harus ada sasaran yang hendak dicapai selain Tujuan, output dan outcome bagi des-desa yang ada di kabupaten, yaitu apa yang akan didapatkan oleh Pemerintah Kabupaten? seperti penguatan Indeks Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) dan berbagai rekomendasi dalam melaksanakan implementasi program Desa Cerdas di wilayahnya.
Hani Purnawanti, S.E., M.M., Ketua Umum Relawan TIK Indonesia, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas inisiatif Kabupaten Blitar dalam mendorong pengembangan desa cerdas. Beliau juga memberikan gambaran umum mengenai peran Relawan TIK Indonesia dalam mendukung program desa cerdas di berbagai daerah.
“Dari kegiatan ini diharapkan muncul berbagai potensi dan kemampuan kapasitas dari masing-masing Wilayah ataupun Cabang Relawan TIK yang ada di daerah dalam pendampingan implementasi Desa Cerdas”, unkap Hani.
Diskusi yang dimoderatori oleh Drs. Hamzah Fathoni, M.M., Ketua Bidang Program Relawan TIK Indonesia, berlangsung dengan interaktif. Para peserta yang terdiri dari pengurus pusat dan wilayah Relawan TIK Indonesia turut aktif memberikan pertanyaan dan masukan.
Poin-poin penting yang mengemuka dalam diskusi ini antara lain:
- Pentingnya data: Pemetaan potensi dan demografi desa secara akurat menjadi dasar dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan desa.
- Pengelolaan dana desa yang efektif: Dana desa harus dikelola secara transparan dan akuntabel untuk menghasilkan dampak yang nyata bagi masyarakat desa.
- Pemanfaatan teknologi: Teknologi informasi dan komunikasi memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung pengembangan desa cerdas.
- Kolaborasi multistakeholder: Pembangunan desa cerdas membutuhkan sinergi antara pemerintah, masyarakat, swasta, dan akademisi.
- Literasi Digital : Pemahaman dan kecakapan digital Masyarakat Desa perluterus ditingkatkan dengan membangun Smart People sebagai pilar dasar Pembangunan Desa Cerdas.
- Pendekatan Sosial Budaya selain Sosial ekonomi : Perlunya pendekatan Budaya Masyarakat lokal dalam implementasi Program desa Cerdas di masing-masing desa yang akan sangat beragam.
Harapannya, diskusi ini dapat menjadi langkah awal dalam upaya menjadikan Kabupaten Blitar sebagai role model dalam pengembangan desa cerdas di Indonesia. Dengan demikian, desa-desa di seluruh Indonesia dapat terdorong untuk melakukan transformasi menuju desa yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera.





